Oleh : Mely Anggrini dan Trinity W F Paendong
Editor : Mely Anggrini

MAJALAYA, meteo.itb.ac.id — BSO Zephyrus sebagai bagian dari HMME “Atmosphaira” Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan kegiatan “Z-SHARE: Final Project BSO Zephyrus 2025” sebagai penutup rangkaian program kerja pengabdian masyarakat tahun 2025 di wilayah Majalaya. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (15/11/2025), bertempat di SMA Negeri 2 Majalaya, Jl. Wangisagara, Kabupaten Bandung.
Program ini dirancang sebagai wadah refleksi, diseminasi capaian, dan pertanggungjawaban publik atas implementasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dijalankan selama periode kepengurusan 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 29 peserta yang meliputi pelajar dari delapan sekolah, perwakilan Yayasan Jaga Balai, serta perwakilan dari enam komunitas kebencanaan di wilayah Majalaya.

Kegiatan diawali dengan pemaparan latar belakang serta tujuan dari program-program yang telah dilaksanakan pada periode kepengurusan 2025. Setelah itu, dilanjutkan dengan presentasi hasil integrasi Z-ONA (Zephyrus – Observasi Nadir Air) yang meliputi instalasi dan pemeliharaan instrumen AWLR dan ARR untuk memonitor tinggi muka air sungai dan curah hujan di tiga titik pengamatan: Ciharus, Cibangoak, dan Sanding. Paparan ini juga mencakup pemanfaatan zephyrusitb.com sebagai pusat data pemantauan hidrometeorologi, serta progres awal pengembangan model prediksi banjir berbasis WRF-Hydro.

Setelah penyampaian capaian program, kegiatan berlanjut ke sesi Demonstrasi Teknologi yang menghadirkan praktik merakit instrumen meteorologi sederhana berbasis sensor ultrasonik dan tipping bucket. Melalui simulasi langsung, peserta dapat mengamati bagaimana setiap komponen bekerja dalam mengukur parameter hidrometeorologi, seperti curah hujan dan tinggi muka air (water level). Metode interaktif ini dirancang agar teknologi pemantauan yang digunakan dapat dipahami secara praktis dan diterima oleh masyarakat luas, termasuk pelajar serta komunitas kebencanaan di wilayah Majalaya.
Seusai sesi teknis tersebut, agenda berlanjut pada aspek keberlanjutan program melalui Dialog Keberlanjutan (Sustainability Dialogue) bersama Yayasan Jaga Balai. Agenda ini berfokus pada rencana serah terima pengelolaan instrumen, termasuk penyusunan roadmap pemeliharaan mandiri setelah masa pendampingan oleh mahasiswa berakhir. Komitmen tersebut menjadi langkah strategis menuju kemandirian masyarakat Majalaya dalam menjaga fungsionalitas instrumen sebagai aset mitigasi banjir. Melalui dialog ini, keterhubungan antara sistem pemantauan berbasis komunitas dan pendekatan ilmiah dari kampus diperkuat sehingga keberlanjutan program dapat lebih terjamin.

Respon positif turut datang dari peserta pelajar. Siswa kelas XI SMK Dharma Agung Paseh, Jajang, menilai kegiatan ini membuka pandangan baru mengenai pentingnya pemantauan cuaca di kehidupan sehari-hari.
“Sekarang sebelum berangkat sekolah saya terbiasa mengamati cuaca dan membagikannya ke grup kelas. Ilmu ini jadi bermanfaat bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk orang lain,” ungkapnya.
Sementara itu, siswi kelas XI SMAN 2 Majalaya, Najwa, mengaku kegiatan Z-SHARE membantunya mengenal meteorologi dari perspektif yang lebih dekat dan aplikatif.
“Kegiatannya sangat bermanfaat karena saya jadi tahu jenis-jenis awan dan bisa memprediksi cuaca. Ini juga jadi bekal kalau ingin melanjutkan pendidikan ke Program Studi Meteorologi,” tuturnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan materi yang semakin inovatif ke depannya.
Kolaborasi dengan Yayasan Jaga Balai menjadi salah satu aspek strategis dalam program ini. Sekretaris Yayasan Jaga Balai 2024–2029, Jonathan, menyampaikan bahwa kehadiran BSO Zephyrus membawa perubahan signifikan dalam cara masyarakat memantau kondisi cuaca dan risiko banjir.

“Sebelum ada kerja sama dengan BSO Zephyrus, kami memantau cuaca dan tinggi muka air masih manual: mengukur hujan pakai gelas takar, mengecek sungai sambil hujan-hujanan. Setelah ada instrumen dan pendampingan dari Zephyrus, semuanya berubah. Data bisa diakses dari rumah lewat internet. Transformasi ini benar-benar membantu kami dan warga bersiap lebih awal ketika risiko banjir meningkat,” jelasnya.
Kolaborasi ini turut menggandeng jejaring komunitas lokal yang bergerak di bidang kebencanaan dan pemberdayaan masyarakat, yaitu Yayasan Jaga Balai, Rikat Tanggulun, Perintis Literasi, Sijagur Ibun, Siaga Warga Rancaekek, Saung Monteng, dan PPA Marcapada. Kehadiran lintas elemen ini memperkuat kesinambungan program sekaligus memastikan bahwa pemanfaatan instrumen dapat relevan dengan kebutuhan lapangan.

Acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama sebagai simbol berakhirnya program kerja Zephyrus periode kepengurusan 2025. Meski pelaksanaan program telah tuntas, teknologi dan pengetahuan yang dihadirkan melalui kegiatan ini diharapkan terus menjadi bekal bagi masyarakat Majalaya dalam menjaga lingkungan, memahami potensi risiko, dan memperkuat kapasitas mitigasi banjir secara berkelanjutan, sekaligus memperkokoh fondasi kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan antara kampus dan masyarakat.


