Zephyrus 2025: Satu Tahun Menyulam Kolaborasi, Teknologi, dan Aksi Bersama Komunitas

Oleh: Tim Content Strategist BSO Zephyrus 2025
Editor: Mely Anggrini (Meteorologi, 2022)

Foto bersama Tim BSO Zephyrus ITB periode 2025.

BANDUNG, meteo.itb.ac.id – Sepanjang periode kepengurusan tahun 2025, BSO Zephyrus aktif membangun jembatan antara teknologi, literasi meteorologi, dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai instrumen lingkungan dipasang, pelatihan digelar, hingga program edukasi di sekolah dan komunitas berjalan bertahap. Upaya ini tak hanya melahirkan capaian teknis, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi yang menjadi fondasi keberlanjutan program di tahun-tahun mendatang.

Berikut momen-momen penting yang menandai perjalanan Zephyrus selama 2025.

1. Penguatan Jejaring Z-ONA: Tiga Titik Aktif dan Satu Titik Pengembangan

Tim Zephyrus melakukan survei lokasi untuk menentukan titik pemasangan instrumen pemantauan debit air pada aliran sungai di wilayah Majalaya.

Pada tahun 2025, Zephyrus memusatkan program pada penguatan Z-ONA (Zephyrus–Observasi Nadir Air) sebagai fondasi sistem pemantauan banjir berbasis data. Upaya ini diawali melalui pemetaan titik dan survei lokasi untuk menentukan daerah yang paling relevan sebagai penempatan instrumen. Hasil survei mengarah pada tiga sektor sungai yang merepresentasikan alur debit kiriman, yaitu Ciharus (hilir), Cibangoak (tengah), dan Sanding–Paseh (hulu). Ketiga titik tersebut kini berstatus aktif dan operasional, dilengkapi sensor AWLR–ARR, mikrokontroler ESP32, dan sistem panel surya—seluruhnya terhubung dengan telemetri real-time yang mengirimkan data setiap lima menit ke zephyrusitb.com.

Selain tiga titik operasional, Zephyrus juga menyusun satu titik pengembangan di sektor hulu untuk menutup kekosongan data spasial. Dengan demikian, fokus pembangunan infrastruktur tidak lagi berhenti pada instalasi alat, tetapi pada pembentukan jejaring pemantauan multi-node yang menjadi dasar bagi pengelolaan data banjir bersama komunitas kebencanaan di wilayah Majalaya.

2. Z-INSPACT: Masyarakat Merakit Sendiri Instrumen Pemantau Banjir

Peserta pelatihan mempraktikkan kalibrasi instrumen Zephyrus-Observasi Nadir Air  (Z-ONA) secara langsung di lapangan.

Transfer teknologi ke masyarakat menjadi komponen penting dalam memastikan sistem dapat beroperasi secara mandiri. Melalui Z-INSPACT, yang dilaksanakan pada akhir Mei 2025, Zephyrus mengadakan pelatihan perakitan instrumen hidrometeorologi bagi 16 peserta dari berbagai komunitas kebencanaan di wilayah Majalaya dan sekitarnya. Peserta diperkenalkan pada struktur instrumen, prosedur penggunaan sensor ultrasonik, penyusunan rangkaian kelistrikan, hingga praktik kalibrasi dengan simulasi debit air.

Seluruh proses dilengkapi dengan “Buku Saku Z-ONA” sebagai panduan teknis lapangan. Dengan pendekatan learning by doing, peserta tidak hanya memahami cara kerja alat, tetapi juga memperoleh kemampuan dasar untuk merawat dan mengoperasikan instrumen secara mandiri. Inisiatif ini memastikan Z-ONA tidak berhenti sebagai “alat bantuan”, tetapi menjadi teknologi tepat guna yang mampu dikelola oleh masyarakat sendiri.

3. Z-INSPACT Goes to School: Literasi Cuaca dan Regenerasi Penggerak Lokal

Peserta Z-INSPACT Goes to School belajar mengenal dan mengamati instrumen Automatic Weather Station (AWS) sebagai bagian dari sesi edukasi literasi cuaca.

Penguatan literasi cuaca dilakukan melalui Z-INSPACT Goes to School, yang diselenggarakan pada September–Oktober 2025 dan melibatkan 63 pelajar dari 10 sekolah di wilayah Majalaya. Program edukasi ini disusun dalam bentuk rotasi kelas yang mencakup pengenalan dasar meteorologi, praktik pengamatan cuaca menggunakan Automatic Weather Station (AWS), serta diskusi mengenai fenomena hidrometeorologi yang relevan dengan lingkungan sekitar. Pendekatan ini memberi ruang bagi pelajar untuk memahami cuaca bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai fenomena yang dapat diamati dan dianalisis melalui data.

Pada sesi lanjutan, peserta diperkenalkan dengan instrumen Z-ONA untuk melihat bagaimana data debit dan curah hujan direkam serta bagaimana data tersebut dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ketika terjadi potensi banjir. Pelajar turut diajak berlatih membaca grafik tinggi muka air dan curah hujan harian, mengenali pola yang mengindikasikan kondisi siaga, serta mendiskusikan tindakan yang dapat dilakukan masyarakat pada skenario risiko tertentu. Melalui proses ini, Z-INSPACT Goes to School membuka akses pemahaman meteorologi yang aplikatif serta menyiapkan regenerasi penggerak lokal yang berpotensi berperan dalam upaya pemantauan banjir di masa mendatang.

4. Rangkaian Pemeliharaan Sistem: 8 Kali Perawatan untuk Stabilitas Data

Tim BSO Zephyrus ITB melakukan pemeliharaan instrumen di Kabupaten Bandung.

Keberlanjutan sistem pemantauan tidak dapat dicapai tanpa pemeliharaan. Selama satu periode kepengurusan, Zephyrus melakukan delapan kali pemeliharaan pada jaringan Z-ONA sehingga alat tetap beroperasi stabil menjelang puncak musim hujan. Kegiatan pemeliharaan meliputi pembersihan panel surya untuk menjaga efisiensi daya, pengecekan sensor ultrasonik, penyetelan ulang dudukan alat agar pembacaan tinggi muka air tetap presisi, penggantian aki dan mikrokontroler ESP32 untuk memperbaiki pengiriman data real-time, hingga relokasi sensor ketika lingkungan sekitar mengalami perubahan fisik. Rangkaian pemeliharaan tersebut memastikan bahwa Z-ONA tidak berhenti sebagai proyek instalasi, tetapi berkembang menjadi aset operasional yang hidup dan dapat diandalkan.

5. RnD Z-MORE & Website: Menuju Sistem Informasi Terpadu

Tampilan laman zephyrusitb.com, pusat data internal yang menampilkan visualisasi tinggi muka air dan curah hujan dari instrumen Z-ONA.

Selain agenda lapangan, Zephyrus mengembangkan sistem pendukung untuk memperkuat integrasi data. Z-MORE (Zephyrus–Model of Rainfall Effect) dikembangkan sebagai pendekatan sederhana untuk membaca hubungan input curah hujan terhadap potensi kenaikan debit, sebagai langkah awal menuju integrasi model hidrologi berbasis WRF-Hydro. Secara paralel, zephyrusitb.com diperbarui sebagai pusat data internal yang memuat data real-time, dokumentasi teknis, dan pembaruan kegiatan. Pengembangan ini membuka jalan menuju sistem informasi terpadu yang dapat diakses publik sebagai dashboard mitigasi banjir pada tahapan program selanjutnya.

6. Z-SHARE: Diseminasi Akhir dan Panggung Kolaborasi

Foto bersama peserta kegiatan “Z-SHARE: Final Project BSO Zephyrus 2025” di SMA Negeri 2 Majalaya.

Penutupan program periode kepengurusan 2025 dilaksanakan pada November 2025 melalui Z-SHARE: Final Project, forum diseminasi yang diadakan di SMA Negeri 2 Majalaya dan dihadiri oleh 29 peserta, mulai dari pelajar hingga komunitas kebencanaan setempat. Kegiatan ini memuat pemaparan capaian utama seperti pemasangan Z-ONA, hasil pelatihan perakitan instrumen, serta progres awal pengembangan model prediksi debit berbasis data. Selain sesi presentasi, peserta mengikuti demonstrasi teknologi dan dialog mengenai rencana pengelolaan instrumen setelah pendampingan mahasiswa berakhir. Melalui Z-SHARE, program ditutup dengan rangkuman hasil dan refleksi pembelajaran, sekaligus menyelaraskan harapan mengenai arah keberlanjutan sistem pemantauan yang telah dibangun sepanjang tahun.

Dari ruang kelas hingga tepi sungai, dari sesi presentasi hingga kerja teknis lapangan, rangkaian pengalaman ini menjadi pengingat bahwa dampak pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk instalasi besar atau program berskala luas. Dampak juga tercermin pada kesinambungan hubungan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta ruang dialog yang tetap terjaga. Proses ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang menghadirkan teknologi, tetapi memastikan teknologi tersebut dapat dipahami, dirawat, dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan yang terus berkembang.

Foto bersama Tim Zephyrus bersama perwakilan komunitas kebencanaan peserta perakitan alat Z-ONA

Berangkat dari perjalanan tersebut, Zephyrus menegaskan komitmennya untuk melanjutkan upaya pengabdian dengan pendekatan yang adaptif, kolaboratif, dan bertumpu pada kebutuhan masyarakat. Capaian yang telah diraih menjadi dasar untuk memperbaiki kekurangan, menyempurnakan sistem, serta mematangkan arah program pada periode berikutnya. Dengan pondasi yang telah dibangun, Zephyrus siap melangkah ke fase selanjutnya dengan semangat yang sama: menghadirkan ilmu pengetahuan yang relevan, terintegrasi, dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan serta komunitas yang menjadi tempat berpijak.