Oleh : Daffa Tsabat (Meteorologi, 2023)

BANDUNG, meteo.itb.ac.id – Kolaborasi riset antara Indonesia dan Jepang kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Joint Seminar: Coastal Hazards and Energy System Science (CHESS) Lab, Hiroshima University x Program Studi Meteorologi dan Oseanografi ITB yang digelar pada Jumat (30/1/2026) di Labtek XI Institut Teknologi Bandung. Kegiatan ini berlangsung secara luring dan daring, serta dihadiri oleh dosen, peneliti, dan mahasiswa yang tertarik pada isu kebencanaan pesisir, sistem energi, hingga dinamika iklim perkotaan.
Sejak awal sesi, atmosfer diskusi terasa hangat namun tetap akademis. Seminar dibuka dengan pengenalan aktivitas riset CHESS Lab oleh Prof. Han Soo Lee dari Hiroshima University. Dalam pemaparannya, ia menceritakan bagaimana laboratoriumnya berkembang dari fokus pada rekayasa pesisir menjadi pusat riset yang menggabungkan kebencanaan, energi terbarukan, dan pemantauan lingkungan. Topik mengenai simulasi tsunami dan interaksinya dengan pasang surut menjadi salah satu sorotan, terutama dalam konteks penyusunan peta bahaya yang lebih akurat. Paparan tersebut memperlihatkan bagaimana pendekatan numerik tidak hanya berhenti pada aspek teknis, tetapi juga berdampak pada kebijakan mitigasi risiko.

Diskusi kemudian bergerak ke isu energi dan lingkungan perkotaan. Dr. Vinayak Bhanage memaparkan penelitian terkait pemasangan panel surya atap (rooftop photovoltaic) di Kota Sendai, Jepang. Ia menyoroti bahwa percepatan transisi energi bersih perlu dipahami tidak hanya dari sisi pengurangan emisi, tetapi juga dari dampaknya terhadap kondisi mikroklimat kota. Melalui simulasi model atmosfer resolusi tinggi, timnya mengkaji bagaimana variasi cakupan panel surya dapat memengaruhi suhu udara permukaan dan keseimbangan energi kawasan urban. Topik ini memicu ketertarikan peserta, mengingat isu dekarbonisasi dan pengembangan kota berkelanjutan semakin relevan di Indonesia.
Isu pesisir kembali mengemuka ketika Gandhi Napitupulu mempresentasikan pemanfaatan citra satelit dan kecerdasan buatan untuk memetakan habitat lamun di perairan Jepang. Pendekatan berbasis penginderaan jauh tersebut memungkinkan pemantauan ekosistem pesisir secara lebih efisien dan berkelanjutan. Lamun sebagai bagian dari ekosistem karbon biru dinilai memiliki peran penting dalam menyerap karbon, sehingga penelitian ini menjadi jembatan antara oseanografi, teknologi spasial, dan isu perubahan iklim global.

Dari pihak ITB, Dr. Eng. Faruq Khadami memperkenalkan berbagai kegiatan riset oseanografi yang dilakukan di wilayah pesisir Indonesia, termasuk kajian dinamika perairan dan karakteristik lingkungan laut tropis. Sementara itu, Dr. Muhammad Rais Abdillah membahas simulasi dampak urbanisasi dan pemanasan global terhadap fenomena urban heat island di Ibu Kota Nusantara (IKN). Penelitian tersebut menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains iklim dalam perencanaan kota masa depan, terutama dalam menghadapi peningkatan suhu dan perubahan tata guna lahan.

Seminar kemudian ditutup oleh Dr. Radyan Putra Pradana dari BMKG yang menyoroti peran High Performance Computing (HPC) dalam mendukung riset atmosfer dan iklim beresolusi tinggi. Ia menekankan bahwa kapasitas komputasi yang memadai menjadi fondasi penting dalam menjalankan simulasi kompleks yang dibutuhkan untuk perencanaan dan mitigasi risiko di kawasan urban maupun pesisir.
Selama lebih dari tiga jam, diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan dari peserta yang hadir. Pertukaran gagasan yang terjadi menunjukkan bahwa tantangan kebencanaan, transisi energi, dan perubahan iklim tidak dapat ditangani secara sektoral. Diperlukan kolaborasi lintas disiplin, sebagaimana tercermin dalam seminar ini.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Meteorologi dan Oseanografi ITB bersama CHESS Lab Hiroshima University tidak hanya berbagi hasil penelitian, tetapi juga membuka ruang kerja sama yang lebih luas di masa mendatang. Seminar ini menjadi pengingat bahwa sains, ketika dipertemukan dalam ruang dialog yang terbuka, dapat menjadi jembatan untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks.


