Wisudawan Meteorologi ITB Kembangkan Sistem Peringatan Dini dan Aplikasi Cuaca: Era Baru Tugas Akhir Berbasis Purwarupa

Oleh : Daffa Tsabat (Meteorologi, 2023)

BANDUNG, meteo.itb.ac.id – Program Studi Meteorologi ITB, terus mendorong inovasi dalam penyusunan Tugas Akhir (TA) mahasiswanya. Pada momen wisuda Agustus dan Oktober 2025 lalu, pendekatan baru dalam kurikulum akademik mulai membuahkan hasil nyata melalui jalur TA Purwarupa. Berbeda dengan skripsi umum yang berfokus pada analisis dan penelitian fenomena atmosfer, jalur ini menuntut mahasiswa untuk melakukan hilirisasi keilmuan menjadi produk teknologi yang dapat diaplikasikan langsung oleh masyarakat.

Langkah strategis ini dijawab oleh dua wisudawan, Nafal Shaquille Muhammad dan La Ode Muhammad Abin Akbar, yang berhasil mengembangkan sistem informasi meteorologi terintegrasi. Selain motivasi untuk menciptakan implikasi langsung ke masyarakat, keduanya memilih jalur ini sebagai wadah untuk menyalurkan minat dan bakat mereka yang mendalam pada dunia pemrograman (coding) serta pengembangan perangkat lunak.

Integrasi Data untuk Mitigasi Bencana

Tampilan Website Z-Fews yang dikembangkan oleh Nafal Shaquille Muhammad. (Dok. Pribadi)

Napal mengembangkan sebuah sistem berbasis web bernama Zephyr Flood Early Warning System (Z-FEWS). Sistem ini dirancang sebagai platform peringatan dini banjir sungai, dengan studi kasus di Sungai Palu.

Dalam pengembangannya, Z-FEWS menjawab tantangan diseminasi informasi bencana yang sering kali tercecer di berbagai platform berbeda. Napal mengintegrasikan data angin dari model GFS, data tutupan awan dari satelit, serta data radar dari Rain Viewer (BMKG) ke dalam satu tampilan peta interaktif. 

“Fungsi utama website ini adalah memberikan diseminasi informasi kepada masyarakat maupun pemerintah daerah tentang ancaman potensi banjir. Sistem menampilkan status peringatan mulai dari Aman, Waspada, Siaga, hingga Bahaya berdasarkan prediksi debit air,” ujar Napal.

Ia menekankan pentingnya aspek User Experience (UX) dalam sistem peringatan dini. Informasi disajikan secara terpusat agar pengguna dapat memahami tingkat risiko dengan cepat tanpa harus melalui proses navigasi yang rumit.

Tantangan Komputasi Sistem Real-time

Tampilan Website dan Aplikasi  yang dikembangkan oleh La Ode Muhammad Abin Akbar. (Dok. Pribadi)

Sementara itu, Abin mengembangkan prototipe sistem informasi cuaca berbasis aplikasi mobile (Android) dan website. Sistem ini dirancang menyerupai standar operasional BMKG, yang mampu menyajikan data observasi spasial dan time series secara real-time dengan pembaruan data setiap 10 menit.

Kompleksitas sistem ini terletak pada pengolahan data masif. Abin memanfaatkan data Automatic Weather Station (AWS) dari JagatBalai PUPR di empat titik Cekungan Bandung, data GSMAP, serta citra satelit Himawari-8/9 untuk kanal True Color dan Infrared.

“Tantangan terbesarnya adalah spesifikasi mesin. Karena sistem informasi yang dibuat membutuhkan pemrosesan data tinggi, maka diperlukan sistem komputasi yang memadai untuk menjamin kelancaran informasi,” jelas Abin.

Validasi dan Pengujian Perangkat Lunak

Meski berbentuk prototipe, TA Purwarupa tetap menjunjung tinggi kaidah ilmiah. Validasi dilakukan secara berlapis. Dari sisi meteorologis, akurasi model dan analisis spasial dibandingkan dengan tren data observasi AWS dan GSMAP.

Sementara dari sisi rekayasa perangkat lunak, para wisudawan menerapkan metode pengujian standar industri. Napal menjelaskan bahwa proses validasi mencakup Unit Testing untuk menguji setiap berkas kode, Integration Testing untuk memastikan alur komponen berjalan lancar, hingga User Acceptance Testing (UAT) yang melibatkan pengguna langsung untuk memastikan fungsionalitas sistem.

Bagi mahasiswa yang berminat mengambil jalur ini, kedua wisudawan memberikan tips berharga. Napal menyarankan agar mahasiswa melakukan riset mendalam mengenai User Experience (UX) sebelum mulai menulis kode.

“Kamu mau bikin platform seperti apa, mimpinya seperti apa, itu digambarkan dulu. Riset kenyamanan pengguna, baru diterjemahkan ke dalam coding,” pesan Napal. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan Technical Writing untuk menyusun dokumentasi teknis dan manual pengguna agar karya yang dihasilkan dapat digunakan secara maksimal.

Di sisi lain, Abin mengingatkan pentingnya persiapan teknis yang matang. “Persiapkan komputasi yang memadai, perbanyak belajar model machine learning, dan explore lebih dalam data yang ingin digunakan,” pungkasnya.

Kehadiran TA Purwarupa di Program Studi Meteorologi ITB menandai era multidisiplin, di mana sains atmosfer berpadu dengan software engineering. Hal ini diharapkan dapat mencetak lulusan yang tidak hanya andal dalam analisis cuaca, tetapi juga adaptif dalam menciptakan solusi teknologi tepat guna bagi permasalahan lingkungan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *