Reporter : Maitsaa Aaliya Sabrina (Meteorologi, 2024)
Editor : Daffa Tsabat (Meteorologi, 2023)

BANDUNG, meteo.itb.ac.id – Ekskursi Mahasiswa Meteorologi ITB ke BRIN Serpong Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie dan BMKG Kelas 1 Soekarno Hatta dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Mei 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat bagaimana teori yang dipelajari di kelas diterapkan dalam kegiatan observasi serta mengenal berbagai instrumen yang berkaitan dengan mata kuliah Teledeteksi Atmosfer dan Pengantar Gelombang Atmosfer.
Kunjungan ke BRIN Serpong
Mahasiswa tiba di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie BRIN Serpong sekitar pukul 11.00 WIB. Di lokasi tersebut, mahasiswa mendapatkan sambutan serta pemaparan mengenai laboratorium alat survei yang berada di bawah Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Inovasi.
Sesi diawali dengan penjelasan mengenai Met-Ocean, yaitu bidang yang menggabungkan meteorologi dan oseanografi untuk mempelajari interaksi antara atmosfer dan lautan. Penjelasan pertama ini mencakup sistem integrasi observasi laut yang terdiri dari mooring observation, remote sensing, dan moving observation untuk mendapatkan data dimensi ruang dan waktu yang akurat. Adapun teknologi yang diperkenalkan dalam sesi ini, seperti buoy, satelit altimetri, dan argo floats. Selain itu, mahasiswa juga dipaparkan mengenai penggunaan alat langsung dalam deteksi kapal karam di Selat Sunda.
Pemaparan materi dilanjutkan mengenai alat-alat observasi yang digunakan dalam observasi atmosfer, seperti radar X-band, micro rain radar, microwave radiometer, disdrometer, hingga SODAR, yang masing-masing berperan dalam membaca kondisi atmosfer dari sudut yang berbeda. Radar X-band dual-polarization, misalnya, digunakan untuk melihat struktur awan secara tiga dimensi dan membedakan jenis objek, seperti air cair, es, maupun objek biologis dari respons sinyal yang diterima.
Selain mempelajari kegiatan observasi, mahasiswa juga diperkenalkan pada berbagai riset yang dikembangkan di BRIN, termasuk penelitian di bidang fisika awan dan modifikasi cuaca. Penelitian tersebut memanfaatkan bahan semai seperti NaCl berukuran 2 hingga 5 mikron dan silver iodide yang disebarkan melalui berbagai metode, mulai dari pesawat berawak, drone, hingga wahana penelitian lainnya.
Antusiasme mahasiswa ekskursi terlihat dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan sehingga beberapa hal yang kebingungan bisa terjawab di sesi ini. Kemudian, mahasiswa diajak berkeliling melihat berbagai instrumen penelitian, seperti drone LiDAR untuk pemetaan tiga dimensi, sistem USBL untuk pelacakan posisi bawah air, drone termal untuk inspeksi otomatis, serta autonomous surface vehicle (ASV) yang digunakan dalam survei hidrografi.
Kunjungan BMKG Kelas I Soekarno Hatta
Kegiatan ekskursi dilanjutkan dengan kunjungan ke BMKG Kelas I Soekarno Hatta. Mahasiswa peserta ekskursi tiba di BMKG sekitar pukul 13.00 WIB dan langsung disambut hangat oleh pihak BMKG. Pihak BMKG memberikan sambutan serta penjelasan mengenai materi yang akan disampaikan pada sesi ekskursi tersebut. Di sini, peserta ekskursi dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing akan mendapatkan penjelasan yang sama.

Pembagian pertama berada di ruang observasi yang berfokus pada penginderaan jauh dan otomatisasi data. Tugas dari sesi ini, yaitu memantau produk radar berupa Radar X-band yang dipindai bertahap setiap sudut elevasi tertentu. Di ruang ini pula sandi METAR, SPECI, dan disusun sebagai informasi selama penerbangan yang disampaikan oleh pilot pesawat. Pengamat di sini dibutuhkan untuk verifikasi keadaan di lapangan misalnya, ketika radar mengindikasikan adanya hujan, tetapi pengamatan langsung menunjukkan tidak terjadi hujan, maka informasi hujan tidak akan diteruskan.
Sesi kedua adalah ruang operasional prakirawan sebagai pemberi informasi bagaimana cuaca dalam waktu ke depannya. Pengawasan cuaca dilakukan berdasarkan wilayah Flight Information Region (FIR), yang terdiri atas FIR Barat (Sumatra, Jawa, dan sebagian Kalimantan) serta FIR Timur, di bawah otoritas Meteorological Watch Office (MWO). Validitas prakiraan TAF di bandara berlaku selama 30 jam dan diperbarui tiap 6 jam sekali. Saat ini, BMKG menggunakan 9 model acuan baru dalam memprediksi cuaca ke depannya. Informasi menarik yang didapatkan, yaitu 3 per 4 stasiun BMKG bersinergi sehingga memiliki wewenang merilis produk prakiraannya sendiri.

Sesi ketiga, peserta ekskursi diajak untuk berkeliling di taman alat. Taman alat di BMKG Soekarno Hatta termasuk kategori kelas satu. Petugas juga menjelaskan fungsi dan mekanisme dari setiap instrumen baik konvensional maupun otomatis kemudian di akhir sesi dijelaskan bahwa setiap instrumen dikalibrasi secara rutin agar tidak terjadi kesalahan pembacaan hasil pengukuran dari instrumen.

Kegiatan ekskursi ditutup dengan penutupan yang disampaikan oleh pihak BMKG dan penyerahan plakat dari pihak meteorologi ITB. Dengan adanya kegiatan ekskursi ini, para peserta ekskursi diharapkan dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan bagaimana penerapan mata kuliah teledeteksi atmosfer dan pengantar gelombang atmosfer di dunia nyata. Pengalaman belajar secara langsung ini tidak hanya memperkaya wawasan teoritis, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai dunia operasional serta riset cuaca. Hal ini diharapkan mampu memotivasi mahasiswa untuk terus berkembang dan berinovasi.


